Rabu, 28 Agustus 2013

Renungan Harian 28 Agustus 2013

JUDUL: Keturunan Ular

Nabi Yesaya mengatakan, Tuhan tidak akan menghakimi orang dari kilasan pandang atau ocehan orang. Kriteria penilaian Tuhan adalah keadilan dan kejujuran, yang tak menyimpang dari kebenaran dan keadilan-Nya (lih.Yes
11:3-5).

Kriteria itu pulalah yang diterapkan Yesus kepada para ahli Taurat dan kaum Farisi. Di luar, mereka tampak ahli dalam hukum dan saleh dalam tindakan. Namun di dalam, hati mereka penuh dengan kebusukan dan kekotoran. Mereka tak hanya mengabaikan dan memeras kaum lemah dan miskin, tapi juga tak punya toleransi terhadap siapa pun yang mempertanyakan praktik keagamaan mereka.

Sekali lagi, kecaman Yesus terkait dengan kemunafikan. Pada Mat 23:33, kecaman itu mencapai puncak dengan menyebut para pemimpin dan tokoh agama itu sebagai “keturunan ular berbisa (Yun. echidna)” (lih. Mat 3:7; 12:34). Dalam mitologi Yunani, echidna dikenal sebagai tokoh setengah perempuan setengah ular yang ‘melahirkan semua monster’. Dengan menyebut para tokoh agama itu sebagai keturunan echidna, Yesus menunjukkan bahwa kemunafikan adalah sumber dan awal kehancuran agama. Kemunafikan menafikan hakikat kebenaran (Yun. aletheia) agama. Padahal aletheia dari Allah adalah dasar dari iman. Ia menghidupi, membebaskan dan memimpin manusia (lih. Yoh 1:14.17; 4:23-24; 8:32; 16:13). Aletheia itu hanya bisa diterima bila ada keterbukaan yang tulus dari manusia. Jelas, yang ini sangat sulit bagi para hipokrit.

Selasa, 27 Agustus 2013

Renungan Harian 27 Agustus 2013

Kepahitan, kegetiran, dan kesedihan adalah warna kehidupan St Monika (333-387). Terlahir dari keluarga Katolik di Tagaste, Aljazair, Monika dibesarkan seorang pembantu rumah tangga yang mengajarkan ketaatan dan ketabahan. Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pejabat Romawi yang kasar dan membenci kekristenan. Mereka dikarunia tiga anak, Agustinus, Navigius, dan Perpetua.

Meski rumah tangganya rusak karena ulah Patrisius, tapi setiap hari Monika tetap bertahan dalam doa, terutama agar suaminya bertobat. Setelah 30 tahun, doanya dikabulkan. Patrisius menjadi Kristen, setahun sebelum ia meninggal. Namun, kepedihan Monika tak berhenti. Setahun setelah ayahnya meninggal, Agustinus justru nekad ‘kumpul kebo’ dan punya anak. Ia bahkan menjadi pengikut Manikeisme yang mengajarkan bahwa hidup manusia adalah pertentangan abadi antara prinsip kebaikan dan kejahatan. Hati Monika sangat terluka, sampai-sampai ia putus asa. Namun, seorang uskup menguatkannya, “Anak yang dibesarkan dengan air mata ini tidak akan binasa.” Monika kembali tekun berdoa, dan setelah sembilan tahun, Agustinus pun bertobat.

Selama 39 tahun, St Monika berdoa terus untuk suami dan anak-anaknya. Melalui teladan St Monika, ditunjukkan bahwa seorang ibu itu selalu memiliki hubungan langsung dengan Tuhan. Maka doanya selalu memiliki makna kekekalan. Kesatuan dengan Yang Illahi itu membuat tidak ada yang munafik dalam doa seorang ibu. Ini jauh berbeda dengan doa kaum Farisi dan ahli Taurat, yang dikecam Yesus dalam Injil hari ini.

Jumat, 16 Agustus 2013

Renungan Harian 17 Agustus 2013

Sabtu, 17 Agustus 2013, Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Renungan:

Kemerdekaan adalah anugerah untuk terlibat dalam karya kreatif Allah bagi keselamatan dunia. Secara khusus, sebagai warga negara Indonesia, yang beriman, kita pun diajak menggunakan anugerah kemerdekaan itu untuk terlibat dalam karya kasih Allah bagi bangsa Indonesia. Menjadi orang beriman yang benar itu juga sekaligus menjadi seorang warga negara yang baik. 100% Katolik dan 100% Indonesia. Memiliki iman yang signifikan serta relevan. Kemerdekaan adalah saat dimana kita bisa melibatkan diri sebagai garam dan terang di bumi Indonesia ini.

Doa Perutusan:

Tuhan yang mahabaik, syukur atas anugerah kemerdekaan bagi bangsa kami, Indonesia. Kami mohon berkat-Mu selalu bagi kami semua, agar semakin mampu mensyukuri kemerdekaan itu dengan giat mewartakan kebenaran-Mu di tengah hidup bangsa kami, menjadi garam dan terang yang sungguh berguna bagi kesejahteraan bangsa kami. Ya Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Pembaruan Perjanjian: Renungan Jumat, 16 Agustus 2013 - Hidup Katolik

Pembaruan Perjanjian: Renungan Jumat, 16 Agustus 2013 - Hidup Katolik

Pembaruan Perjanjian: Renungan Jumat, 16 Agustus 2013

Kamis, 15 Agustus 2013 10:00 WIB
Pembaruan Perjanjian: Renungan Jumat, 16 Agustus 2013
inthedoghouse.hubpages.com
HIDUPKATOLIK.com - Pekan Biasa XIX; Yos 24:1-13; Mzm 136; Mat 19:3-12

Tanah Perjanjian berhasil diduduki. Hal ini terjadi bukan karena pedang ataupun panah orang Israel, melainkan karena kuasa Tuhan. Karena itu, Yosua kemudian mengumpulkan segenap suku Israel di Sikhem untuk meneguhkan kembali perjanjian mereka dengan Tuhan.

Acara dimulai dengan pidato panjang lebar dari Yosua mengenai penyelenggaraan Tuhan sepanjang sejarah Israel, mulai zaman Abraham sampai zaman mereka sendiri. Dari situ tampak bahwa Tuhan sudah berbuat banyak bagi mereka. Puncaknya, Tuhan memberi mereka sebuah negeri yang berlimpah susu dan madu. Kasih Tuhan kepada mereka sungguh nyata!

Karena itu, Yosua mengajak umat Israel untuk memberi tanggapan yang layak. “Takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia,” demikian ia berkata. Saat itu, segenap suku memberi jawaban positif. Mereka berjanji akan setia kepada Tuhan dan tidak akan menyembah dewa-dewi bangsa lain.

Ajakan yang sama ditujukan kepada kita. Dalam berbagai macam bentuk, kasih Tuhan sudah kita rasakan sepanjang hidup kita. Itulah tanda bahwa cinta-Nya kepada kita begitu besar. Ketika sedih, diberi-Nya kita penghiburan; ketika tertimpa masalah, diberi-Nya kita jalan keluar. Tak henti-hentinya pula Ia mengalirkan rezeki bagi kita. Sudahkah kita bersyukur kepada-Nya?

J. Jarot Hadianto
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/08/15/pembaruan-perjanjian-renungan-jumat-16-agustus-2013#sthash.NxckSL7G.dpuf

Kamis, 15 Agustus 2013

Renungan Harian 15 Agustus 2013

JUDUL: Tanah Perjanjian

Musa memang segala-galanya bagi umat Israel. Kepergiannya mendatangkan duka yang mendalam, namun hidup harus terus berjalan. Kepemimpinan dilanjutkan Yosua. Ia langsung berhadapan dengan tugas berat; membawa umat Israel masuk ke Tanah Perjanjian.

Kepemimpinan Yosua ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Tuhan menyertainya seperti Ia menyertai Musa. Peristiwa penyeberangan Sungai Yordan bahkan dikisahkan sejajar dengan penyeberangan Laut Teberau. Pesan yang mau disampaikan cukup jelas: sama seperti Musa, Yosua adalah pemimpin yang dapat diandalkan.

Namun, harus diingat bahwa orang Israel berhasil memasuki Tanah Perjanjian pertama-tama karena kuasa Tuhan. Buktinya, bukan Yosua yang berada di barisan paling depan, melainkan tabut Tuhan. Tuhanlah yang membelah Sungai Yordan dan memimpin umat-Nya memasuki negeri penuh harapan.

Kepemimpinan Tuhan harus kita sadari dalam perjalanan hidup ini. Ketika meraih suatu prestasi, banyak orang mengira bahwa itu terjadi berkat kemampuan dan kerja keras pribadi. Mari bersikap rendah hati. Kita ini manusia yang punya banyak kelemahan. Dengan satu dan lain cara, Sang Pencipta hadir di sisi kita, menuntun jalan kita, serta memberi kita banyak bantuan dan kemudahan.

Selasa, 13 Agustus 2013

renungan harian tanggal 13 agustus 2013

Bacaan: Markus 15:16-20aBacaan Setahun: Yesaya 64-66Nats: Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. (Markus 15:17)MAHKOTA DURITerasa nyeri tertusuk duri... demikian penggalan lirik lagu pop kala saya masih remaja. Kebetulan nama pelantun tembangnya Rafika Duri. Ya, kehadiran duri berisiko menusuk. Rasanya sakit. Paulus menamai "penyakit" di tubuhnya "duri di dalam dagingku" (2 Kor. 12:7). Wujud duri janggal. Dari tangkai yang lurus-landai tiba-tiba timbul tonjolan ekstrim. Tekukan tajam. Menyimpang tajam. Berujung tajam. Serba tajam, siap menusuk. Nyeri rasanya.Duri hadir di bumi bersamaan dengan hadirnya dosa. Dosa adalah penyimpangan tajam dari kehendak Allah. Kehidupan jadi terlaknat. Timbul "semak duri dan rumput duri" (Kej. 3:17-18). Duri adalah buah dosa, hasil penyimpangan. Dosa membuat kehidupan ini serba berduri. Rupa-rupa hal menyakitkan terjadi di keluarga, di sekolah atau pekerjaan, dan di masyarakat. Penyakit. Kelainan. Kecacatan. Penyelewengan. Kecurangan. Konflik. Permusuhan. Kegagalan. Pengkhianatan. Kepedihan. Darah. Air mata. Semuanya menyakitkan. Duri. Nyeri.Ketika disalibkan kepala Yesus diberi mahkota rangkaian tangkai berduri. Dipaksakan masuk. Praaak! Buluh menghantam. Duri menusuk. Kulit terobek. Daging tercabik. Urat terpotong. Darah mengalir. Artinya, Dia merasakan semua kesakitan akibat dosa. Mahkota duri mewartakan: Yesus adalah Tuhan yang tak pernah jauh dari kita. Kala duri kehidupan menusuk kita, biasanya orang pergi menjauhi kita. Yesus tidak! Dia kenal betul tusukan duri itu. Perih dan nyerinya. Di tempat kita merasa nyeri, Dia ada bersama kita. Yakinlah! --Pipi A* * *BERSIAPLAH MENGGARAP LAHAN MILIK TUHAN DENGAN MENABURKANBENIH FIRMAN TUHAN KEPADA SEMUA ORANG YANG BELUM MENGENAL-NYA.

Jumat, 02 Agustus 2013

Renungan Harian 2 Agustus 2013

JUDUL: TAHUN YOBEL

Bacaan hari ini berbicara tentang Tahun Yobel. Kata Yobel atau Yubile kemungkinan berarti sangkakala dari tanduk kambing jantan yang ditiup pada hari yang sudah ditentukan (lihat ay. 9). Menurut ay. 10, Tahun Yobel ini merupakan tahun yang kudus dan tahun kebebasan. Menurut ay. 13 pada Tahun Yobel ini semua orang Israel mesti pulang ke tanah miliknya. Artinya, jika seseorang sudah menjual tanah miliknya kepada orang lain, pada Tahun Yobel, sang pembeli ini mesti mengembalikan kepada orang yang sebelumnya menjual tanah tersebut. Seorang yang terpaksa menyerahkan diri sebagai budak kepada orang lain, juga harus dibebaskan. Dengan demikian, orang tersebut bisa memulai kehidupan secara baru pada tahun ini.

Dasar dari ajaran sosial ini adalah pandangan teologis bahwa tanah adalah milik Yahweh; di hadapan-Nya bangsa Israel hanyalah “orang asing dan pendatang” (ay. 23). Pada tahun kelima puluh ini, kepemilikan Yahweh atas tanah Israel mesti diakui secara dramatis, yaitu dengan mengembalikan tanah yang pernah dibeli kepada pemilik yang sebelumnya.

Lalu? Berdasarkan semangat ini, menjelang tahun 2000 yang lalu, Paus Yohanes Paulus II mengusulkan penghapusan hutang -entah sebagian atau seluruhnya- yang ditanggung oleh banyak negara yang secara serius mengancam masa depan banyak bangsa (TMA 51). Apakah semangat ini masih bisa diwujudkan meski dalam bentuk yang lebih sederhana?